SOSIAL BUDAYA

Masyarakat Bawean berasal dari perbauran berbagai suku di Nusantara, seperti Jawa, Madura, Sumatera (Palembang), Sulawesi (Bugis dan Mandar) serta Kalimantan, juga perbauran beberapa bangsa diantaranya Cina, Arab dan India menjadikan masyarakat Bawean suatu etnis yang unik. Pada tahun 1976 seorang jurnalis bernama Emmanuel Subangun menulis bahwa "Bawean people are a crystallization of Indonesian ethnic variety."

Kebiasaan masyarakat Bawean suka merantau ke berbagai tempat di Nusantara dan Mancanegara sehingga bahasa yang digunakan juga merupakan serapan dari berbagai bahasa daerah asal dan rantau. Dialek Bawean banyak dipengaruhi kosakata bahasa Madura, Melayu, Bugis, Jawa, Inggris, Arab dan lain-lain. Namun bahasa Bawean lebih dekat dengan dialek Madura daerah Bangkalan, Pamekasan, Sampang, Sapudi dan Sumenep

Kepercayaan asal masyarakat Bawean adalah  penganut animisme, kemudian mendapat pengaruh kepercayaan Hindu dan Budha sampai tahun 1600-an ketika masyarakat Bawean mulai memeluk Islam. 

Busana Tradisional wanita Bawean disebut Baju Kurung, sedangkan busana pria semacam busana Teluk Belanga yang merupakan baju tradisional Kerajaan Johor-Singapura-Riau-Lingga.

Keseniaan Tradisional banyak diwarnai dengan budaya bernafaskan Islam, antara lain : 
  • Kercengan   : Kesenian ini semacam hadrah, tarian dan gerakan didasarkan pada gerakan sholat atau membentuk lafaz Allah. 
  • Mandiling     : Pantun berbalas yang dilakukan oleh muda-mudi, biasa dijadikan untuk mencari jodoh dan mengungkapkan rasa kasih sayang.
  • Dikker         : Artinya zikir berupa lantunan syair Barzanji dan zikir lainnya yang  kemudian menjadi bagian dari budaya Bawean. 
  • Jibul            : Berupa seni bercerita yang dilagukan, dengan iringan rebana, jidor dan kompang. Biasa dilakukan setelah Isya sampai menjelang Subuh. Biasanya berkisah tentang nabi-nabi. Bahasa yang dipakai biasanya dialek Bawean dan bahasa Indonesia.
  • Ada juga Konto  dan Pencak yang merupakan salah satu aliran silat di Bawean. 
Budaya yang lain yaitu Molod, perayaan maulid Nabi Muhammad SAW yang ditandai dengan Angkatan telur yang berarti kelahiran.